Literasi Digital “Salurkan Hobi Di Dunia Digital” Indonesia #MakinCakapDigital

Batu besar jangan diangkat,

Tertimpa kaki muncul rasa iba.

Mentari mulai tergelincir di barat,

Tandanya webinar literasi sudah tiba.

 

Sabtu, 25 September 2021 mulai jam 10.00 dilaksanakan kegiatan webinar nasional yang diadakan oleh @literasidigitaljatim1 bekerja sama dengan Kominfo, Indonesia Maju, dan Siber Kreasi. Narasumber hebat yang diundang pada webinar nasional ini diantaranya Nisfu Asrul Sani (Peneliti Keamanan dan Teknologi Informasi ITS), Arumi Bachsin (Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Timur), Devie Rahmawati (Peneliti dan Pengajar Tetap Vokasi UI), dan Romzi Ahmad (Wakil Ketua Umum GNLD Siberkreasi dan Asisten Staf Khusus Presiden RI). Serta dimeriahkan dan berperan juga sebagai Key Opinion Leader yaitu Jang Hansol, yang merupakan youtuber kelahiran Korea Selatan yang pernah menimba ilmu sampai jenjang SMA di Kota Malang. Dengan dimoderatori oleh Patricia Oxanna (Mahasiswi ITB) webinar berjalan dengan lancar, menarik dan banyak sekali informasi yang
dapat diambil sebagai pembelajaran dan instropeksi diri. Webinar ini dibuka oleh Bapak Presiden RI, Bapak Joko Widodo

Kita akan membahas terlebih dahulu tentang hobi di dunia digital. Adanya media sosial yang sering digunakan oleh khalayak luas saat ini adalah platform Youtube, Instagram, Facebook, TikTok dan lain sebagainya. Media tersebut bermuatan berbagai jenis berita dan informasi. Baik informasi yang positif maupun yang negatif. Sudah banyak youtuber atau sebutan bagi seseorang yang memiliki channel Youtube yang memulai hobinya dari 0, salah satunya adalah Jang Hansol. Memulai karirnya sebagai Youtuber tentu tidaklah mudah. Semua dia mulai dari “apa yang orang lain ingin lihat”. Dari kalimat tersebut dia menjelaskan bahwa membuat channel Youtube akan lebih menghasilkan apabila bisa melihat apa yang diinginkan penonton sehingga hasilnya pun akan lebih maksimal. Jang Hansol menyebut bahwa ketika seseorang sudah memiliki channel dan membuat videonya sendiri maka secara tidak langsung orang tersebut bisa mempengaruhi orang lain. Maka dari itu Jang Hansol berpesan kepada anak-anak muda yang memiliki channel untuk turut andil dalam memanfaatkan ruang digital sebaik mungkin. Karena tidak jarang banyak youtuber malah mempengaruhi hal-hal yang buruk ke pengikut channel-nya

Lalu kenapa diawal disebutkan “intropeksi diri” ? Karena tema webinar yang diangkat dengan judul Salurkan Hobi di Dunia Digital tidak hanya berkaitan dengan sesuatu yang bisa dilakukan saat berada di dunia digital, namun juga membahas bagaimana cara kita beretika dan bergaul dimedia sosial. Dewasa ini, pengaruh globalisasi telah
memaksa kita untuk mengerti penggunaan teknologi digital, agar dapat mempermudah segala bentuk kegiatan. Ditambah dengan kondisi pandemi seperti ini, membuat kita melakukan lebih banyak aktivitas secara daring sehingga penggunaan teknologi digital semakin tinggi.

Kegiatan belanja, transaksi, hiburan bahkan pendidikan pun sekarang dilakukan secara digital. Oleh sebab itu berbagai perangkat elektronik dari telepon genggam, laptop, PC, tablet dan perangkat elektronik lainnya sering kita temui dalam berbagai kegiatan. Tak jarang kegiatan yang bersifat digital saat ini sering disalahgunakan oleh banyak kalangan. Di kalangan pelajar yang seharusnya perangkat tersebut akan mudah digunakan untuk belajar dan mencari informasi positif, malah disalahgunakan untuk hal-hal yang bisa merugikan diri sendiri.
Seperti bermain
game yang melewati batas normal dan mengakses website pornografi. Lalu mengapa hal tersebut bisa terjadi ? Hal itu dikarenakan kurangnya pengawasan orang tua. Orang tua tidak membatasi anaknya dalam
penggunaan telepon genggam. Beberapa tokoh dunia tidak mengijinkan anaknya untuk memiliki telepon genggam sampai anaknya dinilai cukup cakap dalam memanfaatkan teknologi. Menurut Nisfu Asrul Sani mengungkapkan bahwa anak sebaiknya jangan diberikan telepon genggam, anak hanya boleh dipinjami telepon genggam
dengan batas waktu tertentu sehingga kehidupan sosial dan interaksi di dunia nyatanya juga tidak terganggu. Untuk permainan di telepon genggam pun juga banyak yang bisa membantu anak-anak untuk belajar asal dikemas menarik dan menghibur. Peran orang tua menjadi kunci dari tumbuh kembang anak, “Mau anak ini menjadi karakter yang bijak ataukah menjadi karakter yang keras semua tergantung orang tua” menurut Nisfu Asrul Sani.

Kemudian mari kita tengok bagaimana cara kita dalam beretika dan bergaul di dunia digital ? Tentu saja tidaklah mudah. Menurut Devie Rahmawati sebagian orang Indonesia memiliki karakter mudah untuk tersulut emosi sehingga terkadang dalam mengomentari hal-hal yang ada di media sosial dapat menimbulkan rekam jejak yang buruk. Menurut hasil survey DCI Regional Summary netizen Indonesia adalah orang yang paling tidak sopan se-Asia Tenggara dalam hal berkomunikasi. Mengapa hal tersebut bisa terjadi ? Hal tersebut bisa terjadi karena kurangnya pendidikan dan pengetahuan bagaimana cara berkomunikasi yang baik secara verbal maupun non verbal. Berangkat dari kurangnya pengetahuan mengakibatkan kegiatan bullying menjadi marak terjadi di media sosial. Tingkat bullying tertinggi terjadi di media sosial Instagram dengan persentase 47% dengan kategori “penampilan” sebanyak 61%. “Jika kalian menghujat seseorang dikarenakan fisik atau penampilannya bukankah berarti kalian menghina Tuhan ? Karena orang yang kalian hujat fisiknya itu adalah ciptaan Tuhan.” jelas Devie Rahmawati 

Selanjutnya apa yang akan terjadi bila sudah terlanjur menuliskan hal-hal bermuatan negatif ? Komentar-komentar jahat yang sudah terekam jejak secara digital akan sulit sekali dihapus. Dan dapat merugikan diri sendiri, seperti yang dikatakan oleh Romzi Ahmad bahwa apa yang ditulis bisa menjadi boomerang suatu saat nanti. Contoh sederhana terkadang ketika melamar suatu pekerjaan kita diminta untuk mencantumkan media sosial, hal itu sangat berguna untuk perusahaan untuk mengetahui rekam jejak kita sebagai pelamar kerja. Banyak pertimbangan yang harus dilakukan untuk merekrut seseorang. Oleh sebab itulah penting bagi kita untuk selalu berhati-hati dalam berkomentar atau suatu kejadian yang diberitakan di media sosial.

Krisis moral yang terjadi saat ini menjadi tanggung jawab  kita bersama. Maka dari itu mulailah dari keluarga untuk selalu mendidik dan menperlakukan anak-anak sedari dini untuk selalu membiasakan hal-hal yang baik, agar menjadi kebiasaan yang baik pula saat dia dewasa. Devie Rahmawati menambahkan sedikit renungan kepada kita semua yaitu “Jadikan ruang digital menjadi mata air kebahagian dan kesejahteraan bukan menjadi air mata kehancuran dan kerusakan”. Jika memiliki hobi di dunia digital, maka jadilah pelaku hobi yang bijak dan berwawasan karena setiap orang yang berada di ruang digital bisa menjadi CCTV yang siap merekam segala tindak tanduk kita sebagai pengguna ruang digital.

 

ditulis : Maulia Shofiyah Hanum, S.Ds.,MM

diedit : Yatmiarsih, S.Pd